Disini saya akan menceritakan pengalaman saya yang menginspirasi diri saya sendiri. Semoga dari cerita yang saya sampaikan bisa menginspirasi kawan-kawan semua.  Semangat!

Ini adalah pengalaman saya yang saya alami ketika UN 2010 kemarin. Semua siswa di seluruh Indonesia sedang bersaing untuk mendapatkan kelulusan dengan nilai yang terbaik dan tentu mengerjakan dengan semurni-murninya. Saat itu tak ada satu pun siswa yang tidak berusaha dengan sungguh-sungguh dan tentu dalam benaknya masing-masing ingin memperoleh nilai sebaik-baiknya, oleh karena itu pasti antara satu dengan yang lain saling bersaing, saling berusaha serius mengajar target agar tercapai, tak ada satu pun lagi yang mau saling membantu kecuali dalam hal belajar bersama. Tentu dalam pelaksaan Ujian Nasional tersebut itu sendiri tidak diperbolehkan kata menyontek atau bekerja sama sehingga unsur-unsur manusiawi ikut mempengaruhi, yaitu saling bersaing diam-diam, tidak ingin kalah dari orang lain, sehingga masing-masing bekerja sendiri dengan kepercayaan diri masing-masing untuk mendapatkan yang terbaik. Terutama jika menangani permasalahan yang ada yaitu Ujian Nasional, yang harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh demi mencapi kelulusan dengan nilai yang sebaik-baiknya. Tentu celah keunggulan sangat kita perlukan dalam hal ini, selain berusaha belajar dengan sungguh-sungguh kita pun harus unggul dalam hal ketelitian, kesabaran dalam mengerjakan soal, dan doa yang sungguh-sungguh tentunya sehingga mendapatkan hasil yang maksimal. Dan menurut saya ini sangat manusiawi, dalam perjuangan mencapai cita-cita kita harus konsisten terhadap keseriusan diri sendiri, jangan sampai cita-cita terbengkalai karena ketidak-konsistenan kita terhadap target yang ingin dicapai. Saya pun begitu ketika mengerjakan soal UN, yang saya pikirkan hanya ketelitian dan berusaha mengerjakan dengan serius mungkin agar mendapat nilai yang bagus dan lulus tentunya. Teman-teman saya pun begitu, mereka berusaha mengerjakan masing-masing tanpa menyontek satu sama lain. Tak ada satupun yang sempat memikirkan hal tersebut, hanya berusaha fokus pada pekerjaan masing-masing.

Cerita Inspirasi dari seseorang bernama Edy Pratolo

Ketika saya pulang di sebuah senja, saya masih melihatnya duduk di sana. Seorang wanita empat puluhan duduk dalam kiosnya di tepi seruas jalan di kotaku yang telah ribuan kali kulewati. Puluhan tahun yang lalu ketika usia saya masih belum genap sembilan tahun, kios itu sudah ada disana.

Menjajakan majalah, koran, dan sejumlah barang kelontong.
Ketika itu mobil kami berhenti di depan kiosnya dan wanita itu datang menghampiri membawa apa yang biasanya kami inginkan, majalah Ananda dan Bobo buat saya serta majalah Tempo dan Intisari untuk ayah. Demikian terjadi sepekan sekali sepulang sekolah selama bertahun-tahun hingga tiba saatnya saya beranjak remaja dan berganti selera baca, saya tak lagi menemui wanita itu.
Sekonyong-konyong di senja itu, tatapan mata saya ke luar angkot yang tengah membawa saya pulang ke rumah, menyapu kios itu dan wanita yang sama di dalamnya. Bedanya, kali ini ia tak lagi menjajakan koran dan majalah. Hanya rokok, minuman cola, air mineral, dan sejumlah barang lain. Apakah itu semacam kemunduran perniagaan, saya tak tahu persis.
Yang tampak jelas bagi sel-sel kelabu saya adalah kenyataan bahwa ia, untuk menafkahi hidupnya, masih saja duduk di tempat yang sama, setelah lewat bertahun-tahun.
Suatu sore lain dalam sebuah gerbong kereta yang saya tumpangi, saya menatap puluhan gubuk dan rumah petak di sepanjang lintasan rel yang menuju stasiun Senen. Benak saya digelayuti iba dan juga pertanyaan.
Sejumlah gerobak mie ayam melintas di jendela dengan cepat. Apa yang begitu menarik dari kota ini, begitu pertanyaan saya, sehingga mereka sanggup bertahan dalam kepapaannya di tengah gemuruh Jakarta yang keras.
Apakah itu nasib? Adakah nasib yang membuat Ibu penjaja koran yang tinggal di Semarang dan mereka yang tinggal di kompleks kumuh Jakarta tetap bertahan di sana?
Bagaimana bisa kita memahami nasib? Saya tak bisa. Tetapi keponakan saya yang berumur lima tahun punya petunjuknya.
Saat itu saya sedang bermain berdua dengannya: Ular-Tangga. Setelah beberapa lama bermain dan bosan mulai merambati benak, saya meraih surat kabar dan mulai membaca-baca. Nanda, keponakan saya itu, kemudian berkata, “Ayo jalan! Gililan Om. Kalo nggak jalan juga, Om bakal nggak naik-naik, di situ telus, dan mainnya nggak selesai-selesai.”
Saya tersadar.
Ular-Tangga, permainan semasa kita kanak-kanak, adalah contoh yang bagus tentang permainan nasib manusia. Ada petak-petak yang harus dilewati.
Ada Tangga yang akan membawa kita naik ke petak yang lebih tinggi. Ada Ular yang akan membuat kita turun ke petak di bawahnya.
Kita hidup. Dan sedang bermain dengan banyak papan Ular-Tangga. Ada papan yang bernama kuliah. Ada papan yang bernama karir. Suka atau tidak dengan permainan yang sedang dijalaninya, setiap orang harus melangkah.
Atau ia terus saja ada di petak itu. Suka tak suka, setiap orang harus mengocok dan melempar dadunya. Dan sebatas itulah ikhtiar manusia:
melempar dadu (dan memprediksi hasilnya dengan teori peluang). Hasil akhirnya, berapa jumlahan yang keluar, adalah mutlak kuasa Tuhan.
Apakah Ular yang akan kita temui, ataukah Tangga, Allah lah yang mengatur. Dan disitulah Nasib. Kuasa kita hanyalah sebatas melempar dadu.
Malangnya, ada juga manusia yang enggan melempar dadu dan menyangka bahwa itulah nasibnya. Bahwa di situlah nasibnya, di petak itu. Mereka yang malang itu, terus saja ada di sana. Menerima keadaan sebagai Nasib, tanpa pernah melempar dadu.
Mereka yang takut melempar dadu, takkan pernah beranjak ke mana-mana.
Mereka yang enggan melempar dadu, takkan pernah menyelesaikan permainannya.
Setiap kali menemui Ular, lemparkan dadumu kembali. Optimislah bahwa di antara sekian lemparan, kau akan menemukan Tangga. Beda antara orang yg optimis dan pesimis bila keduanya sama-sama gagal, Si Pesimis menemukan kekecewaan dan Sang Optimis mendapatkan harapan.